how much is levitra at walmart buy levitra canada cost of viagra vs cialis vs levitra prices of viagra cialis and levitra levitra clinical trials

Sejarah Jemaat

Berdasarkan catatan sejarah, baik tertulis maupun lisan maka sejarah Jemaat GPM Tual dapat diuraikan sebagai berikut :

Pada tahun 1622, di Pulau Banda ditempatkan seorang Gubernur oleh VOC (Veerenigde Oos Indiche Compagnie), untuk menjadi penguasa atas wilayah Selebes Maloeca en Papua (Sulawesi, Maluku dan Papua) yaitu Gubernur Cornelis Ancoli. Karena menjadi satu tugas pada saat berangkat dari Eropa menuju dunia Timur, maka Ancoli berinisiatif untuk mengadakan pelayanan di daerah bagian Tenggara untuk mencari tahu tempat penghasil rempah-rempah yang sering disinggahi pedagang Pribumi asal Jawa dan Bugis untuk ditempatkan seorang Opsir dan beberapa prajurit, guna menghalau para pedagang Pribumi.

Usaha ini mulai direncanakan sematang mungkin guna mencapai suatu keberhasilan. Dalam hal ini Gubernur Ancoli selalu mengumpulkan informasi tentang daerah Tenggara dari warga Jemaat Protestan di Banda dalam setiap ibadah dan selalu dijawab. Karena informasinya sudah cukup, maka surat keputusan pun dikeluarkan dan yang ditugaskan saat itu adalah Residen Muda Pieter Powelwn sebagai Wakil Pemerintah yang bertugas bersama VOC (Perusahan Dagang Hindia Timur), Penghentar Jemaat Banda Neira Domini Jan Jansen, Admiral Jose van Berg, Mayor Andreas. Dalam perjalanan mereka dikawal lima prajurit dengan menumpangi kapal Nederlandsche Boot, berangkat menuju wilayah Tenggara dan singgah pertama kali di Negeri Ngurdu. Usaha Protestanisasi mulai digalakan dan mendapat hasil yang memuaskan yaitu dibaptisnya dua bersaudara dari marga Talubun, yang bernama Bernadus Talubun dan Izac Talubun. Namun para pembesar ini tidak kembali lagi ke Ngurdu setelah berangkat ke Ambon (ini membuat kecewa keluarga Talubun yang adalah pembesar di Ngurdu). Oleh karena hal tersebut, maka mereka kembali ke kepercayaan semula yakni Animisme dan Dinanisme. Keadaan ini menyebabkan wilayah Tenggara khususnya Kepulauan Kei menjadi terlantar.

Berbagai upaya terus dilakukan. Usaha selanjutnya dilaksanakan oleh Rasul Maluku Yosef Kham. Walaupun dalam kondisi sakit, ia tetap berusaha mengunjungi daerah Tenggara. Ia sempat mengunjungi Wilayah Kei yang terlantar kurang lebih 250 tahun. Yosef Kham tiba di Kei bulan Januari tahun 1833 setelah mengunjungi wilayah Selatan Daya dengan menggunakan kapal Neiuw Tese, ia singgah di Desa Namser (Dullah Sekarang) untuk mengambil air. Pada waktu itu, di Desa Namser berdiri sebuah pabrik kayu milik Belanda yang dikenal dengan nama Haut Vabrik Kei Moear Eiland (Pabrik Kayu Pulau Kei Kecil), namun karena pada saat itu Yosef Kham dalam keadaan sakit sehingga ia tidak dapat berbuat banyak bagi daerah terlantar ini, maka ia berkeputusan kembali ke Ambon bulan itu juga. Dengan demikian Daerah Kei sekali lagi menjadi terlantar.

Waktu terus berputar, usahapun terus dilakukan dan kali ini kembali dilaksanakan oleh Penghentar Jemaat Banda Neira Domini Jacoeboes Verterah. Bersamaan dengan itu setelah mendengar berita dari negeri Belanda bahwa raja Wileam I menyatakan Gereja-gereja Protestan di Indonesia menjadi Gereja Protestan Indo Hindia Belanda, maka dalam waktu singkat Domini Jacoeboes Verterah mengadakan kontak dengan Residen Baron van Hoffel di Ambon. Setelah mendapat sambutan baik dari sang Residen, Domini pun berangkat bersama rombongan pelayaran Hongi Tohcten yang dipimpin oleh Admiral Andrians Doortsman, yang berangkat dari Banda awal tahun 1845 bulan Desember dengan menumpangi kapal Loos Boot dan dikawal 5 kora-kora, mereka menuju ke Kepulauan Kei namun ketika tiba di pantai Ver Tubav, angin kencang datang menghantam ke-5 kora-kora itu dan akhirnya tenggelam. Saat peristiwa itu, Pdt. Domini Jacoeboes Verterah bersama Admiral Adrians berhasil meyelamatkan diri dari serangan angin tersebut dan melanjutkan pelayarannya menuju ke Kepulauan Aru dan merekapun tiba di kampung Er Ersin.

Dengan demikian, usaha Protestanisasi di wilayah Kei kembali terhenti, dan dari pengalaman di atas para penginjil sudah mengurungkan niatnya untuk mengunjungi daerah Kei, usaha ketiga kembali gagal. Pada tahun 1880 kembali tiba di daratan Kei seorang berkebangsaan Jerman yang ditugaskan oleh Pemerintahan Kolonial untuk membuka pabrik kayu baru menggantikan pabrik yang dulunya bertempat di Desa Namser. Ia adalah seorang Protestan dan selalu menyurat kepada pembesar di Ambon, namun karena tidak pernah ada balasan apa-apa, sehingga ia kecewa dan bekerja sama kembali dengan Misionaris Katolik, hingga berhasil. Pada tahun 1889 agama Katolik sudah ada di Kepulauan Kei tepatnya di Desa Ohoingur (Langgur).

Seiring berputarnya waktu saat penjajahan Kolonial Belanda maka, Tual dijadikan sebagai pusat kegiatan Pemerintahan Hindia Belanda untuk wilayah Kei dan Aru. Oleh karena sudah ada Jemaat Protestan yang berdiri di dekat Kota Tual yaitu di Taar, maka mengingat rentang kendali pelayanan pada saat itu, di mana seluruh Pegawai Sipil Belanda harus melakasanakan kegiatan Ibadah di Taar, kemudian Pemerintah Belanda memutuskan untuk mendirikan suatu Jemaat Protestan di Tual untuk melayani semua Pegawai Sipil dan keamanan Hindia Belanda yang saat itu tinggal di Tual. Karena itu Predicant van Maloeca Domini Apselar Mooy melanjutkan keputusan Pemerintah dan menugaskan J.Platel sebagai Pendeta (1901 – 1903). Dengan penempatan Pendeta Platel itulah, maka pada tanggal 25 Desember 1901 dilaksankan ibadah perdana. Selain Platel ada juga Para Pendeta lain : Mayers (1903 – 1905), Leteboer (1905 – 1907), Eiken Haoezent(1907 – 1914). Setelah jemaat itu berdiri, kegiatan pendidikan dan kesehatan mulai dilakukan sejak tahun 1914 – 1925 pada masa Pendeta Gerding. Ia pun mendirikan sekolah-sekolah seperti Lager School (setingkat SD sekarang) yang diberi nama Marthen Luther School, MULO (Setingkat SLTP sekarang) dengan nama yang sama, VO/Vervolog School (sekolah guru) dan satu rumah sakit yang diberi nama Ziken Heijs de Kerk Maloeca Protestant.

Perlu diketahui bahwa, karena sulitnya ditemukan catatan sejarah (baik tertulis maupun lisan) maka seluruh proses perkembangan Pekabaran Injil sejak tahun 1925 – 1949 tidak terekam, hingga yang dapat disampaikan sebatas demikian saja. Perlu juga diinformasikan bahwa pada masa Pendeta Coloc (1942 – 1943) Jepang mendarat di Tual. Beliau diselamatkan oleh warga Jemaat Weduar dengan dilarikan ke kapal Australia yang sementara berlabuh dipertengahan Kei Besar dan Aru.

Kurang lebih tahun 1901-1949, pelayanan di Jemaat Tual lebih banyak dilayani oleh para pendeta berkebangsaan Belanda. Kemudian setelah tahun 1949, pada masa Pdt. Baas, benih-benih Injil semakin bertumbuh merasuki jiwa dan kehidupan para pendahulu masyarakat Tual. Berdasarkan tuturan cerita pelaku sejarah, bahwa konsentrasi pelayanan masih tetap dilakukan di Gereja Tua yang berlokasi sekarang di SMA Kristen Tual sekitar tahun 1960-an. Beberapa tahun kemudian, atas kesepakatan bersama, lokasi peribadahan dialihkan ke Gedung Gereja Maranatha (gedung yang sekarang Itnem).

Pada tahun 1962, pelayanan peneguhan anggota Sidi Gereja pertama dilakukan di Gereja tersebut, dengan jumlah anggota Sidi Gereja 48 orang, yang di dalamnya terdapat beberapa anggota TNI asal Pulau Jawa, yang karena tugas terkait dengan peristiwa Trikora. Mereka di BKO-kan ke Tual. Pada tahun itu, persebaran wilayah pelayanan dibagi dalam Wijk (Sektor) yaitu Wijk A berlokasi dari Kampung Baru Atas sampai wilayah Un, Wijk B dari Kampung Baru Bawah sampai sekitar Wearhir, sedangkan Wijk C dari Petak XX sampai ke Kampung Pisang. Kemudian, wijk-wijk tersebut dibagi lagi dalam beberapa Unit pelayanan. Wijk A terdiri dari Wijk A1, Wijk A2, Wijk A3; Wijk B terdiri dari Wijk B1, Wijk B2, Wijk B3 dan Wijk C terdiri dari Wijk C1, Wijk C2, Wijk C3.

Semakin hari keberadaan umat semakin bertambah dan kemudian pada masa kepemimpinan Pdt. J.N. Noya, proses pembangunan Gedung Gereja Sion dimulai yang ditandai dengan peletakan batu pertama. Kemudian secara bertahap pembangunan itu dikerjakan oleh tukang professional yang dibantu warga jemaat. Akhirnya, tanggal 07 November 1987, Gedung Gereja Sion diresmikan oleh Pdt. A.J..SOPLANTILA dan Drs. A.E. ENGKO. Seiring dengan bertambahnya jumlah warga jemaat maka turut pula mempengaruhi luasnya jangkauan pelayanan, dan demi efektifitas pelayanan maka dibangun sebuah Gedung Gereja yang diberi nama Anugerah. Lambat laun, seiring dengan perkembangan pelayanan gereja, dari Jemaat induk (Jemaat Tual) lahirlah Jemaat GPM Anugerah Tual. Setahun setelah pemekaran, melalui keputusan Persidangan Jemaat GPM Tual, maka status Jemaat GPM Tual berubah nama menjadi Jemaat GPM Tual; sedangkan Jemaat Anugerah baru mengalami perubahan nama menjadi Jemaat GPM  Anugerah Ohoijang pada tanggal 23 Agustus 1998.

Pada bulan Maret tahun 1998 telah terjadi konflik sosial yang bernuansa sara menyebabkan beberapa Unit Pelayanan dalam Jemaat Tual yaitu : Unit Kiom, Unit  Wearhir dan Unit Jiku Empat jadi hilang (eksodus) dan  bergabung dengan Unit – unit pelayanan yang berada di loksi Un.

Perlu diungkapkan pula bahwa sejak tahun 1972 – 2005, proses pemilihan Majelis Jemaat masih didasarkan pada suara terbanyak. Padahal menurut Peraturan Pokok tentang Jemaat, unsur Majelis Jemaat harus merupakan perutusan dari Unit Pelayanan. Atas dasar pertimbangan Jumlah Kepala Keluarga Jemaat GPM Tual pada tahun 2006 sebanyak 988 KK (laki-laki = 2.654 orang, perempuan = 2.741 orang), maka pada Persidangan Jemaat XXVI yang berlangsung tanggal 19-21 Februari 2006, salah satu keputusannya adalah pemekaran Sektor dan Unit Pelayanan yaitu dari 7 sektor menjadi 13 Sektor dan 27 Unit menjadi 29 Unit.

Pada tahun 2010 dan 2015, kembali terjadi pemekaran sektor dan Unit pelayanan dalam Jemaat GPM Tual dari 13 Sektor dan 29 Unit menjadi 15 Sektor dan 36 Unit Pelayanan, yaitu : Unit Kapernaum 1 dimekarkan menjadi 2 Unit dengan nama Sektor Kapernaum. Unit Kapernaum 2 dimekarkan menjadi 2 Unit dengan nama sektor Bethel dan Unit Bethel 1 dimekarkan lagi menjadi 2 unit. Unit Zaitun 3 dimekarkan menjadi 2 Unit dengan nama Sektor Syalom. unit Kalvari 1 dimekarkan menjadi Unit Kalvari 1 dan 3. Emaus 1 dimekarkan menjadi Emaus 1 dan 2.  Unit Emaus 2 dimekarkan menjadi Emaus 3 dan Emaus 4. Dengan demikian, sampai akhir tahun 2015  terdapat 15 Sektor dan 36 Unit Pelayanan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *